My photo
Currently seeking therapy through literature. Wrote a novel once, Eccedentesiast (2013), and will proceed on writing casually. Don't take these writings seriously, don't let it question yourself.
Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Tuesday, March 19, 2013

Satu Titik

Satu titik kita bertemu.
Berpandang lalu bertukar rasa.
Tersenyum dalam keluguan.

Langit sore yang indah,
hanya aku saksikan sendiri
dengan bayanganku yang telah pergi.

Andai foto dapat dihidupkan.
Sudahku hidupkan berpuluh juta kali
kenangan yang terdiam di kursi belakang.

Satu titik kita bertemu.
Satu titik kita berpisah.
Berpandang lalu berlinang air mata.
Begitu saja,
semuanya hilang.

Friday, February 8, 2013

The Loss - English Poem Assignment


The azure sky hadn’t felt it yet.
Even when the oozing wind
whispers melodies of despair.
Choirs were singing mutely to ears
as thoughts revolve around her.

All she was, is listless
So still, so silent, and breathless.
The sky now feels and turned grey.
Darkening through time to the path of black.

Silently I whisper spells to thin Air.
To “please take care of my mom”
In between the Beginnings and the Ends.
“Amen” as I closed my begs
to the figureless figure that exists in faith.
And forever will exist.

– Annisa Tiara

Wednesday, February 6, 2013

Pergi

Hai,

Yang aku bisa lakukan hanyalah mengaduk kata dan mendekorasinya sedemikian indah agar kamu mau setidaknya membaca sepatah dua patah kata. Bagaikan kue yang matang dari oven, yang masih hangat dan wangi, kata-kata ini berjejer dengan rapih. Bahan-bahannya? Mudah saja tuangkan sedikit tetes air mata, gula-gula cinta dan sedikit percikan amarah. Setelah selama ini dipendam, sekarang mudah saja aku campur adukkan. 

Kue-kue ini aku sajikan khusus hanya untuk kamu dengan harapan kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan. Setidaknya, agar kamu tahu apa yang selama ini aku pendam. Aku menuliskan kata-kata kosong ini sekarang, karena aku tidak tahu kemana lagi aku harus mengadu. Jejeran kata yang terpendam saja dalam hati, lama-lama jenuh terkurung, mereka ingin keluar. Saat hari ini datang, aku lebih memilih untuk menghilang dan pergi, dari pada harus menghancurkan harimu juga. Seperti aku menghancurkan hariku sendiri dengan kusutan benang yang tidak akan pernah usai, sampai salah satu dari kita benar-benar pergi. 

H-62 dari hari ini menuju pintu kebebasan. Pada hari itu aku yakin bahwa tidak ada diantara kita yang akan menyapa satu sama lain dengan senyuman bahagia karena pertemuan -yang selama ini kamu anggap selalu 'tidak sengaja' namun terencana. Sekalipun kita bertemu secara tidak sengaja dengan jujur, kamu seperti tidak menganggap aku ada, seperti aku hanya terbuat dari angin sipu yang berhembus melewatimu. Namun hai 'kawan', angin sipu ini juga punya hati. 

Aku berdiri di dapur ini sekarang, sekali lagi mengadukkan seluruh isi hati. Membentuk dan mendekorasikannya agar saat disajikan kepadamu, kamu setidaknya melirik dan membaca sepatah dua patah kata. 

Tapi,
Aku tidak berharap kamu menyukainya, 
aku tidak berharap kamu mengerti. 
Aku hanya ingin kamu tahu, karena itu saja cukup untukku. 

Sunday, February 3, 2013

Bebas

Setelah sebulan terkekang dalam berbagai urusan, aku dapat berkelana dengan bebas lagi hari ini. Terbang kesana kemari seperti burung yang entah hilang atau bingung. Dari pada dirumah sendiri ditinggal pergi ayahku yang bekerja, aku memutuskan untuk menghilang dari peredaran, terbang ke sangkar dimana biasanya aku menyendiri menikmati langit dan angin semilir dengan MP3 yang memainkan lagu hits yang aku sedang suka. Ah, memikirkan ide melakukannya saja sudah membuat hati lebih meriah, dari pada tertempel di sofa ini saja, menonton apa yang sebenarnya tidak pula jelas di TV ini. 

Adzan maghrib sedang berkumandang, aku bersiap diri dan mengambil kunci motor yang tergeletak begitu saja diatas meja ruang tengah. Anginnya sedang bersahabat hari ini, satu tapak saja diluar rumah sudah merasa sedikit terbebaskan dari kepenatan yang rumah ini tanamkan. Dengan perlahan aku menyalakan motor dan kebebasan sepenuhnya di tanganku. Aku menengadah sedikit mencari Tuhan diatas, dan yang aku temukan malah segelintir awan yang berceceran, dilangit yang sedang bertransformasi warna dari kuning kejinggaan menjadi ungu dan biru tua. Malam gelap ini diterangi sinar bulan penuh yang tanpa segan melontarkan cahayanya dengan bebas diantara bintang-bintang yang menari diatas sana dalam dunia gemerlap mereka sendiri. Hari ini penuh dengan kebebasan, untuk semuanya. 

Aku memarkirkan motor diantara semak hijau dipinggir jalan dan turun, aku naik keatas tanggul disebelah kali besar ini dan duduk saja sendiri. Pandanganku bebas menatap perbentangan langit dan pepohonan yang menyatukan tanah dan perbentangan itu. Bintangnya manis sekali, dimana-mana berceceran begitu saja seperti seseorang sengaja melemparnya keberagam arah agar mengisi semua titik hening di langit tak terhingga itu. Bulannya yang besar seakan melotot dan bertanya kepada dara yang duduk sendiri di tempat sepi ini, sedang apa? Lalu dara berbisik pada dirinya sendiri...


Sedang apa aku disini? 

Selain sendiri menatap indahnya dunia malam, membiarkan dipeluk angin semilir dan mengisi keheningan dan kekosongan malam dengan segelintir lagu. Apa? Aku butuh teman, seorang yang bisa bertukar pikiran denganku saat ini, karena pada akhirnya aku masih merasa kesepian. Dan satu-satunya nama yang aku pikirkan saat aku mencari teman dalam pikiranku, itu kamu.  Yang biasanya memang disni dan selalu disni, mengalihkan pikiranku dengan caramu sendiri, dari beragam kepenatan yang menggangguku dan hariku. Apa saja yang kamu lanturkan akan membuat sepercik api kesedihan atau amarah, padam menjadi abu yang terus hilang ditiup angin sipu-sipu. 

Sepenuhnya kebebasan ini milikku, dimalam yang indah, yang terang, yang tanpa kekang. Dan aku ingin berbagi hati bebas ini denganmu. Sekali lagi saja, sebelum kamu pergi.

Benar-benar pergi.

Wednesday, May 2, 2012

Cintaku Jauh di Pulau

Pada tahun 1946, setelah aku berumur 23, aku memutuskan untuk keluar dari pesisir pantai ini. Aku tidak ingin menjadi seperti bapakku, seorang pelaut. Aku ingin kerja di kota, sebuah pekerjaan yang lebih pasti gajinya dari pada bapak. Sulit dikata, perasaanku saat aku memulai perjalananku menuju hutan rimba. Melewati deras ombak laut dan hujan atau terik matahari. Yang lebih sulit adalah saat aku meninggalkan Lintang, sebelah hatiku. Aku dan Lintang telah menjalani hubungan langgeng selama tiga tahun, tapi untuk kebahagiaan bapak dan ibu, mungkin pula Lintang, aku akan mencari uang jauh dari mereka. Tapi aku berjanji, aku akan kembali untuk mereka setelah aku merasa cukup untuk menafkahi bapak dan ibu, dan mungkin, menyunting Lintang. 

Setelah lima tahun berpisah dari mereka, duniaku terasa sulit. Memang, di kota, di pulau sebrang, gaji lebih pasti dan mudah dibanding berlayar dan memancing ikan. Setiap minggunya, aku menyurati bapak, ibu dan Lintang. Senangnya membaca kata-kata mereka bahwa mereka sehat dan bahagia disana. Kecuali untuk setengah hatiku, yang berkata rindu setiap minggunya, melalui surat-surat yang ia lukis. Dan sampailah aku pada hari ini, hari dimana aku siap untuk pulang. Dimana aku merasa cukup, untuk berlayar kembali ke rumah, menuju surga duniawi. Aku telah menunggu serasa berabad-abad untuk hari ini datang. Pada bulan purnama hari ini, aku akan mulai perjalananku kembali dan aku akan memeluk Lintang, seakan aku tidak akan hidup esok. 

Perjalanan hari ini agak membuat getaran di hati. Awan yang berkuasa merubah diri menjadi gelap dan aku tahu aku menuju peperangan dengan cuaca. Berjam-jam aku berlayar menerjang ombak laut. Di benakku hanya terbayang senyuman bangga bapak, tangisan bahagia ibu dan ... Lintang. Aku dengan hati-hati melewati petir yang menyambar dan angin yang meniup-niupi kapalku. Aku bisa saja mendarat dahulu, namun, aku tidak ingin mengundur waktu menuju kebahagiaan sempurna. Tak lama kemudian semua gelap dan aku tahu ini klimaks dari semua perjuanganku. Karena diujung mataku, aku melihat cahaya terang dimana aku tahu aku akan damai dan bahagia selamanya. 



Pada tahun 1946, saat itu aku berumur 22. Anwar memberiku hadiah ulang tahun terburuk sepanjang masa, yaitu dia memutuskan untuk meninggalkanku. Aku tahu keinginannya untuk kerja dikota karena ingin membanggakan orang tua. Dan aku harus mengalah untuk membiarkannya mengejar impiannya. Aku tahu untuknya pula, berpisah pasti susah, untukku, bagaikan menghapus langit dengan penghapus. Tidak mungkin bukan? 

Malam itu, sebelum dia berlayar, dia berjanji kepadaku akan kembali. Disaat dia yakin, dia dapat membawa orangtuanya dan aku menuju kehidupan yang lebih baik. Selama lima tahun aku ditinggal pergi, sendiri dan hampa. Seakan aku seorang puteri tidur yang sedang menunggu pangerannya untuk membangunkannya. Beruntung puteri itu, menunggu kian lama dengan tidur dan aku, tak bisa berangan dan hanya bersama bayangan diri sendiri. Surat-surat yang tiap minggunya Anwar kirim, telah aku tumpuk menjadi satu. Aku tidak ingin kehilangan apapun, karena buatku, kehilangan salah satu, seperti kehilangan sehelai bagian dari dirinya dan rasa rindu yang ia tempel berserta suratnya. Aku disini menemani orangtua Anwar, mereka terlihat bahagia berdua, tetapi mereka juga merasa rindu yang setara sepertiku. Mereka rindu dengan anak lelakinya yang seperti cahaya diambang kegelapan, seperti aku yang merindu kekasih. 

Minggu lalu, hari Minggu, aku mendapat surat, bahwa Anwar akan pergi kembali berlayar pulang pada hari Senin malam. Dan diperkirakan sampai pada Selasa paginya. Dia berkata bahwa dia akan tinggal disini selamanya dan tidak akan meninggalkanku lagi. Dia akan menanyakan sebuah pertanyaan pula padaku yang katanya akan merubah dunia menjadi lebih indah. Aku tak punya pikiran apapun tentang apa yang dia akan pertanyakan. Dia menulis pula bahwa aku jangan membalas surat ini karena tidak akan sampai padanya, dan aku hanya akan membuang ongkos pengiriman. Malam ini aku akan memimpikannya, malam ini aku akan berdoa agar dia selamat. Malam ini, untuk pertama kalinya setelah lima tahun dia pergi, aku bisa tidur nyenyak.

Esok pagi, aku bangun dan langsung berlari kerumah Anwar, aku mengetuk dengan rasa gugup dihati. Aku takut dia tidak cinta padaku lagi... aku takut, mungkin dia sudah beristri? Lama tak ada jawaban dan orangtuanya pun belum menjawab. Mungkin aku terlalu pagi, mengingat ini hanya subuh. Tetapi seharusnya biasa mereka bangun dan sholat jamaah subuh. Entah, mungkin hari ini berbeda. Aku akan kembali siang. 

Saat aku kembali, Anwar belum ada, pula keluarganya. Aku ketuk, ketuk, dan ketuk. Yang aku dengar hanyalah gaung yang berbisik bahwa rumah itu kosong. Aku mengira mereka pergi untuk jalan sejenak. Aku berharap mereka sedang jalan... aku menenangkan hatiku. Detik, menit, jam, waktu berjalan. Seminggu telah lari, ibu bapak Anwar ternyata hari itu sedang pergi. dan Anwar? Dia belum terlihat batang hidungnya. Aku mengira bahwa dia ditunda perginya. Tak apa, minggu depan aku akan tunggu surat kabarnya. 

Minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun. Anwar tak kunjung datang dan aku tak pernah dapat surat lagi darinya. Hampir diriku sendiri pergi kesana, melewati cuaca gila dan ombak menantang, tapi hatiku kurang kuat. Aku takut, melihat dia bersama wanita lain. Aku hanya bisa menunggu, melihat ke jendela, berdoa dan berharap. Setiap menit, aku menyebut doa yang sama tanpa henti, terus berharap tanpa putus asa. Aku terus melihat keatas, dan memejamkan mata, berharap melihat Anwar. Hingga suatu hari, aku berbisik pada Tuhan;
"Berikanlah aku kepastian..." 
Hingga lalu, pintu rumahku diketuk. Bapak Anwar berdiri disitu, dengan muka lemas, lesu. Penuh dengan kesedihan dimatanya, yang menatapku. Mulutnya yang diam, seakan lengket terjahit ke satu sama lain. Badannya bongkok kedepan, seakan harapan untuk hidup telah hilang. Dia begitu aneh, menatapku hampa. Seakan aku tiada. Menyodorkanku sebuah botol berisi kertas tanpa bicara, lalu pergi. Aku garuk botol itu dan kubuka. 
Untuk Lintang
Sebut surat itu. Aku buka lipatannya dan...

Lintang, Aku cinta dirimu. Maafkan aku tidak bisa menepati janji.

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan oleh - oleh buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
- Cintamu,
Anwar.





Terinspirasi oleh puisi Chairil Anwar, Cintaku Jauh Di Pulau.

Sunday, February 5, 2012

Pernah Ada

Hari ini aku duduk sendiri dengan bayanganku. Aneh, tidak seperti biasanya aku rasakan Jakarta yang sesibuk semut, memberikan aku kesempatan untuk berhening. Entah bagaimana cara mendeskripsikannya, tapi aku merasa tenang, nyaman. Angin meniupkan nyanyian merdunya, menghembuskan nafasnya melewatiku dan sela-sela dedaunan. Mengajak mereka menari dalam keheningan. Matahari tidak berekspresi hari ini, mungkin sedikit kecewa saat dia tahu dia akan segera diusir oleh awan kelam.


Di sudut pandangan kosong ini, seorang lelaki sedang berjalan sendiri dengan santainya, menikmati kesejukan sore. Sepertinya aku mengenal dia, tidak mungkin. Apakah ini nyata? Atau lagi-lagi hanya imajinasi bual? “Angga!” lelaki itu terdiam dan aku tersenyum. Merasakan sebuah rasa lega bahwa nama yang aku sebut adalah namanya. Bukan nama orang lain, tapi dia. Merasakan rasa lega karena dia mendengarku memanggil, tidak berpaling dan perduli. Merasa rasa lega bahwa dia ternyata ada.


Dia melirik bingung ke segala arah taman, mencari asal suara yang memanggil. Lalu hanya terdiam menyipitkan mata ke arahku. Aku berdiri dengan kaki gemetar, meyakinkan bahwa itu memang Dewangga Darma Putra, dia ada. Aku berjalan menghampirinya dan dengan senyuman tulus, dia menyambutku. Tapi entah kenapa, jalanku kearahnya tak kunjung henti. Aku terus melambai kepadanya dan dia hanya tersenyum tapi lalu, melanjutkan jalannya. Aku terus berteriak dan memanggil dan mencoba meraih, tapi seakan semua berjalan menjauh dariku, termasuk Dewangga. Aku menangis dan terus memanggil tapi dia terus menjauh.


Aku terbangun.


Aku hanya terdiam menatap langit kamar yang putih bersih, seakan suci. Mataku mulai menggumpal dan air mata mulai menetes. Entah alasan apa lagi kali ini yang aku harus buat untuk menutupi bekas tetesan yang membercak di mukaku pagi ini. Alasan untuk siapa? Untuk diriku sendiri. Aku butuh alasan kenapa aku harus menangisi sesuatu yang tidak lagi nyata. Mungkin karena aku terlalu bodoh, atau mungkin karena dia membuatku merasa hidup.


"Sinta, ayuk bangun dong udah waktunya kuliah!"


Angga, aku merindukan ini. Pagi-pagi kau mengetuk pintu kosanku dan membuatku bersemangat untuk pergi menjelajah dunia pelajar. Membaca buku yang tebalnya setinggi Eiffel Tower. Saat aku berbaring sakit, kau berada disitu. Saat aku susah makan kau yang memaksaku.


Dengan ini cinta tumbuh perlahan.


Apa aku yang salah Ngga? Atau ini salahmu? Mungkin memang kita tidak akan satu dalam nyata, tapi aku tahu kau sayang padaku selalu.


Bodoh, pernah kau bilang bukan jarak bukan masalah? Kau akan terus menungguku dari waktu ke waktu, meski berputar dalam ilusi kilometer.

Dalam ilusi jam.

Dalam ilusi dunia.


Ingat taman itu? Taman yang mimpi pagi ini mengingatkan bagaimana kita bertemu. Aku duduk disitu sendiri. Kau sedang berjalan sendiri dan aku melihat uangmu jatuh. Entah, aku menghampirimu dan memberikan apa yang layaknya kau simpan. Pertemuan mata Adam dan Hawa yang merubah dunia persilatan. Kemudian waktu bersilaturahmi dengan perasaan. Tak kunjung bosan aku membuang waktuku bersamamu. Bahan candaan dan obrolan tidak pernah hangus saat kita bersama.


Tapi saat kau pergi, semua sirna bukan?


Dewangga Darma Putra.

Entah ini salah siapa, aku tidak ingin menunjuk.

Entah mengapa ini terjadi, aku tidak ingin tahu.

Entah kemana kamu pergi, tapi aku selalu padamu.


Semoga Tuan memberikan tempat terbaik disana Angga.

Saturday, January 7, 2012

Dia Tahu

Terik sinar indah menembusku,

Sekarang saat aku beranda tamu.

Terang saat aku membuka mata,

Pula menembus kelopak tipis yang tertutup.


Langit memang tahu apa luapan hati,

Tanpa harus dibisik jawaban picik.

Tetesan permata telah berhenti.

Saat suasana semesta beriang gembira.


Terkadang aku melayang,

Entah kemana dengan tawa dan cinta.

Bintang menuntun jalanku,

Seakang mengharuskanku kesuatu sana.

Kemana?


Lupa diri, aku ditangkap emosi.

Dikekang oleh ego dunia,

Dihimpit oleh pendapat berbeda.

Argumen disana tertawa,

Melihat Adam dan Hawa Tuan

Bersilaturahmi dengan amarah.


Terkadang aku terjatuh,

Entah kemana dengan tangis dan benci.

Air surut menuntun jalanku,

Seakan mengharuskanku kesuatu sini.

Dimana?


Hembusan dingin menembusku,

Saat aku disana tanpa tamu.

Gelap saat aku menutup mata,

Pula saat aku membuka mereka.


Langit seakan tahu apa luapan hati,

Tanpa harus dibisik jawaban rahasia.

Tetesan permata membanjiri kaki,

Pula air mataku, yang ikut menangis dengan langit.

Saturday, December 31, 2011

Si Tuli dan Si Bisu

Awal dan akhir, bisu.

Terlontar ujung ke ujung, namun segaris.

Awal berakhir dengan awalan baru.

Selalu seperti itu,

Tak pernah kian berhenti,

Mereka terus berputar dalam kefanaan.

Aku berawal sebuah nafas,

Aku berakhir sehela nafas.

Diantara awal dan akhir aku belajar,

Ilmu kuasa dasyatnya cinta.


Aku dan kamu, tuli.

Berhimpit satu millimeter dan segaris.

Mata coklat di bawah matahari,

Dengan ombak laut merdu bernyanyi.

Mereka bisa bilang banyak tentang antara.

Namun si tuli, tidak bisa mendengar melodi mereka.

Biar mereka berbicara dengan tembok,

Biar kita di dunia kita sendiri.

Hanya berbicara bahasa hati.


Biarkan awal dan akhir berputar dalam kefanaan.

Hidup dan kelanjutannya akan

Terus begini.

Biarkan aku dan kamu berputar dalam dunia sendiri.

Seperti itu, aku akan mencintaimu

Terus begini.


Untukmu, 12.