- Tiara ♥
- Currently seeking therapy through literature. Wrote a novel once, Eccedentesiast (2013), and will proceed on writing casually. Don't take these writings seriously, don't let it question yourself.
Wednesday, August 14, 2013
Jakarta Kontemporer
Wednesday, February 6, 2013
Pergi
Tapi,
Sunday, February 3, 2013
Bebas
Sunday, January 27, 2013
Tanda Tanya
naik-naik halilintar
masak ular matang-matang
pusing dibuat putar-putar.
tipis benang mimpi nyata
gulita kelam buat puing pusing.
tanya apa yang siapa saja,
terperangkap sudah di jaring-jaring.
mwmt.
Monday, February 27, 2012
Untuk yang Kesekian Kalinya, Sempurna.
Sunday, February 19, 2012
Berkunjug ke Kelas 3.
Monday, February 6, 2012
Kecewa?
Friday, January 20, 2012
La Facade
Saturday, January 7, 2012
Manusia
Aku bernafas ditengah kematian.
Aku lihat mereka tersenyum,
Tapi mereka disana menangis.
Aku lahir seorang jiwa,
Aku manusia.
Aku seorang jiwa yang terdampar di dalam wujud konkrit ini. Aku bisa menyentuh, aku merasakan mereka yang mati dan kalian yang hidup. Aku melihat hal yang memacu rasa dan pikiran berbeda-beda. Aku berada dimana? Mereka bilang aku tinggal di bumi, apa itu bumi? Mereka bilang penampilanku bagus, apa yang sebenarnya mereka lihat? Mereka bilang aku berumur satu hari, apa itu hari?
Aku berterimakasih,
Telah diperbolehkan Tuan melihat waktu berlari.
Aku berterimakasih,
Telah diperbolehkan Tuan melihat wujud berubah.
Beranjak dewasa, sekarang aku mengerti semuanya. Mereka yang beri cinta dan mereka yang beri benci telah buktikan bahwa hidup itu tidak seindah angan. Pula tidak mudah. Memang tidak ada yang pernah berkata itu, apa lagi di tengah kematian, aku dan lainnya hidup. Apakah ini siklus yang tak kunjung henti? Apakah manusia di perbaharui atau ternyata hanya bermain komedi putar dengan awal dan akhir? Mereka yang menghembus nafas terakhir telah berpindah jiwanya ke bayi itu yang baru lahir. Atau di dalam bayi itu adalah jiwa baru yang suci? Mereka bilang banyak tentang aku, dan aku menentang banyak tentang mereka. Perasaan mengubah pikirannya dalam sepersekian detik. Begitu saja. Apa yang memicu perubahan itu? Sifat orang lain kah terhadap mereka? Perbedaan kah? Apa?
Cinta berkata, kepastian itu adalah suatu yang penting. Tapi jika kau duduk sejenak di bulan dan melihat ke bumi, apakah kepastian itu selalu ada?
Aku dan kamu,
Bisa definisikan diri sendiri.
Aku dan kamu,
Bersama, berdiri di sini.
Tapi aku dan kamu tahu,
Kita semua berbeda.
Pendapat dan perasaan yang berbeda meluap menjadi amarah yang berkerja sama dengan ego. Aku ingin menang. Hanya itu yang tertanam dalam semua pikiran jiwa-jiwa ini. Aku ingin sukses, aku ingin bahagia. Tetapi kadang, kebahagiaan itu kau raih dengan memberi kebahagiaan kepada orang lain. Aku… jujur, adalah seorang manusia yang terkekang keegoisan. Argumen demi argumen yang tak kunjung henti hanya berdiri di situ mentertawakan aku dan kamu yang sedang berbeda pendapat. Jawaban apakah yang harus aku ucap? Aku harus bagaimana? Rahasia siapa?
Aku melihat keindahan,
Aku ingin meraih mereka.
Aku mendengar melodi hati,
Aku ingin beli mereka.
Aku manusia,
Aku ingin semua.
Kadang aku tak bersyukur atas apa yang aku punya. Jika aku lihat mereka, meminta, mengemis di jalan pada saat lampu merah, aku berpaling dengan rasa tak perduli. Aku tidak memperdulikan apa yang aku punya, sampai suatu hari semua keindahan hidup menjadi kehampaan. Setelah sadar, aku sedang jatuh dalam sebuah lubang kelinci yang dalam. Aku harus keluar dan meraih awan lagi.
Dalam kedalaman ini, bisikan iblis memercikan api benci pada Tuan. Pilihan ada di tangan kita, antara kembali bersyukur atau hanya menyerah dan berbuat tiada. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika aku terus di sini, maka aku meraih tangan Tuan dan memulai bersyukur. Atas kepedihan, kehampaan dan kesenangan yang biasa saja dibanding mereka yang di atas, aku tetap bersyukur.
Tuan tolong,
Aku berada dimana?
Tanah kering yang tak tahu seberapa
Membentang tanpa henti
Infinitif.
Aku menuju cahaya,
Tetapi kegelapan menjadi bayanganku.
Aku kemana?
Aku berawal sebuah nafas, aku pula berakhir sebuah nafas. Nafas di bumi. Itu aku dan jiwaku. Tetapi di gurun ini, aku telah memulai jiwa dari bayi. Tidak suci, membawa berat beban dosa duniawi. Aku tak tahu harus mengikuti cahaya yang entah menuju ke mana. Pula bayangan yang tak lengah membuntuti. Aku hanya sendiri, dengan bisikan suara aneh berbagai macam bahasa. Aku mendengar doa mereka di bumi. Aku mati.
Thursday, January 5, 2012
Sang Kembaran
Sunday, January 1, 2012
201n
Saturday, December 31, 2011
Obsession
The crawling numbness began its way,
oozing thin from the valance tip of fingers.
Pushed back against boundaries
shall grips mental sanity,
overcoming whispers of devil’s thought keenly.
Struggling for disparities of which are good and bad.
Seeking through the mirror of rage,
nevertheless consciousness evaporates through time.
Who’s reflection appeared then in the parallel world?
Familiarly now *Perses has awakened,
Possessing mind and souls for words spoken define.
Counting stars in the damp sky is not enough,
for giving off my mind away of sight.
What was made has been done by past.
Through it all for one wish closing near bitterness.
The utter truth amongst lies
and nothing.
*Perses : Greek God of Destruction