My photo
Currently seeking therapy through literature. Wrote a novel once, Eccedentesiast (2013), and will proceed on writing casually. Don't take these writings seriously, don't let it question yourself.
Showing posts with label experience. Show all posts
Showing posts with label experience. Show all posts

Wednesday, August 14, 2013

Jakarta Kontemporer

Jakarta,
Kalau tidak macat, padat.
Kalau tidak padat, panas.
Kalau tidak panas, banjir.
Kalau tidak panas, padat, macat, banjir...

bukan jakarta.

Jakarta,
2013. 

Wednesday, February 6, 2013

Pergi

Hai,

Yang aku bisa lakukan hanyalah mengaduk kata dan mendekorasinya sedemikian indah agar kamu mau setidaknya membaca sepatah dua patah kata. Bagaikan kue yang matang dari oven, yang masih hangat dan wangi, kata-kata ini berjejer dengan rapih. Bahan-bahannya? Mudah saja tuangkan sedikit tetes air mata, gula-gula cinta dan sedikit percikan amarah. Setelah selama ini dipendam, sekarang mudah saja aku campur adukkan. 

Kue-kue ini aku sajikan khusus hanya untuk kamu dengan harapan kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan. Setidaknya, agar kamu tahu apa yang selama ini aku pendam. Aku menuliskan kata-kata kosong ini sekarang, karena aku tidak tahu kemana lagi aku harus mengadu. Jejeran kata yang terpendam saja dalam hati, lama-lama jenuh terkurung, mereka ingin keluar. Saat hari ini datang, aku lebih memilih untuk menghilang dan pergi, dari pada harus menghancurkan harimu juga. Seperti aku menghancurkan hariku sendiri dengan kusutan benang yang tidak akan pernah usai, sampai salah satu dari kita benar-benar pergi. 

H-62 dari hari ini menuju pintu kebebasan. Pada hari itu aku yakin bahwa tidak ada diantara kita yang akan menyapa satu sama lain dengan senyuman bahagia karena pertemuan -yang selama ini kamu anggap selalu 'tidak sengaja' namun terencana. Sekalipun kita bertemu secara tidak sengaja dengan jujur, kamu seperti tidak menganggap aku ada, seperti aku hanya terbuat dari angin sipu yang berhembus melewatimu. Namun hai 'kawan', angin sipu ini juga punya hati. 

Aku berdiri di dapur ini sekarang, sekali lagi mengadukkan seluruh isi hati. Membentuk dan mendekorasikannya agar saat disajikan kepadamu, kamu setidaknya melirik dan membaca sepatah dua patah kata. 

Tapi,
Aku tidak berharap kamu menyukainya, 
aku tidak berharap kamu mengerti. 
Aku hanya ingin kamu tahu, karena itu saja cukup untukku. 

Sunday, February 3, 2013

Bebas

Setelah sebulan terkekang dalam berbagai urusan, aku dapat berkelana dengan bebas lagi hari ini. Terbang kesana kemari seperti burung yang entah hilang atau bingung. Dari pada dirumah sendiri ditinggal pergi ayahku yang bekerja, aku memutuskan untuk menghilang dari peredaran, terbang ke sangkar dimana biasanya aku menyendiri menikmati langit dan angin semilir dengan MP3 yang memainkan lagu hits yang aku sedang suka. Ah, memikirkan ide melakukannya saja sudah membuat hati lebih meriah, dari pada tertempel di sofa ini saja, menonton apa yang sebenarnya tidak pula jelas di TV ini. 

Adzan maghrib sedang berkumandang, aku bersiap diri dan mengambil kunci motor yang tergeletak begitu saja diatas meja ruang tengah. Anginnya sedang bersahabat hari ini, satu tapak saja diluar rumah sudah merasa sedikit terbebaskan dari kepenatan yang rumah ini tanamkan. Dengan perlahan aku menyalakan motor dan kebebasan sepenuhnya di tanganku. Aku menengadah sedikit mencari Tuhan diatas, dan yang aku temukan malah segelintir awan yang berceceran, dilangit yang sedang bertransformasi warna dari kuning kejinggaan menjadi ungu dan biru tua. Malam gelap ini diterangi sinar bulan penuh yang tanpa segan melontarkan cahayanya dengan bebas diantara bintang-bintang yang menari diatas sana dalam dunia gemerlap mereka sendiri. Hari ini penuh dengan kebebasan, untuk semuanya. 

Aku memarkirkan motor diantara semak hijau dipinggir jalan dan turun, aku naik keatas tanggul disebelah kali besar ini dan duduk saja sendiri. Pandanganku bebas menatap perbentangan langit dan pepohonan yang menyatukan tanah dan perbentangan itu. Bintangnya manis sekali, dimana-mana berceceran begitu saja seperti seseorang sengaja melemparnya keberagam arah agar mengisi semua titik hening di langit tak terhingga itu. Bulannya yang besar seakan melotot dan bertanya kepada dara yang duduk sendiri di tempat sepi ini, sedang apa? Lalu dara berbisik pada dirinya sendiri...


Sedang apa aku disini? 

Selain sendiri menatap indahnya dunia malam, membiarkan dipeluk angin semilir dan mengisi keheningan dan kekosongan malam dengan segelintir lagu. Apa? Aku butuh teman, seorang yang bisa bertukar pikiran denganku saat ini, karena pada akhirnya aku masih merasa kesepian. Dan satu-satunya nama yang aku pikirkan saat aku mencari teman dalam pikiranku, itu kamu.  Yang biasanya memang disni dan selalu disni, mengalihkan pikiranku dengan caramu sendiri, dari beragam kepenatan yang menggangguku dan hariku. Apa saja yang kamu lanturkan akan membuat sepercik api kesedihan atau amarah, padam menjadi abu yang terus hilang ditiup angin sipu-sipu. 

Sepenuhnya kebebasan ini milikku, dimalam yang indah, yang terang, yang tanpa kekang. Dan aku ingin berbagi hati bebas ini denganmu. Sekali lagi saja, sebelum kamu pergi.

Benar-benar pergi.

Sunday, January 27, 2013

Tanda Tanya

gulita malam kelam datang
naik-naik halilintar
masak ular matang-matang
pusing dibuat putar-putar.

tipis benang mimpi nyata
gulita kelam buat puing pusing.
tanya apa yang siapa saja,
terperangkap sudah di jaring-jaring.




mwmt.

Monday, February 27, 2012

Untuk yang Kesekian Kalinya, Sempurna.

Aku harap dunia berhenti sejenak agar bisa memandang sebuah fakta bahwa kesempurnaan itu hampa dan kosong. Kesempurnaan itu cerita, angan, impian. Inti, kesempurnaan itu bohong.

Aku ingin hidup yang indah. Dimana ibu bapakku sehat dan akupun begitu. Aku ingin nilai dan sekolahku bagus, dengan uang yang berkecukupan atau agak lebih agar bisa berbagi tawa pada mereka yang kekurangan. Aku ingin memiliki kekasih yang pengertian sehingga kami bisa hidup dalam kedamaian. Aku ingin hidupku bahagia.

Berbalik kepada fakta, hidupku jauh dari situ. Apakah hidupmu juga? Jika tidak, maka engkau harus berterimakasih kepadaNya kawan. Aku lelah sangat dengan semua keinginan dia yang mendorongku ke batas keletihanku setiap hari. Entah kesempurnaan macam apa lagi yang ia minta dariku, tapi ternyata selama ini semua kebaikanku dilihat tembus olehnya.

Entah mengapa semua kejelekanku yang menjengkelkan itu (untuknya) selalu diingat sementara kebaikanku dan prestasi dilupakan begitu saja. Apa karena jengkel itu lebih sering dari pada kebahagiaan yang aku berikan? Aku merasa sakit, jika mengingat kata yang disebutnya tadi. Tidak ada yang tahu mengapa aku selalu ditunjuk sebagai manusia yang buruk dimatanya. Apakah itu sebuah motivasi agar aku mau menjadi yang lebih baik? Atau memang sebuah kutukan yang dia ulang sering kali? Tapi jika itu sebuah motivasi, aku tidak merasa dimotivasi, aku merasa ditindas oleh bayangan sempurnanya. Oh... aku mohon, aku tidak sempurna.

Banyak manusia yang bisa dikata stress karena mengejar sesuatu agar bisa mencapai kesempurnaan. Apa daya manusia berlari sekuat tenaga untuk mencapainya? Karena jikapun kau berlari mengelilingi dunia, akan kau sadar nanti bahwa, sekali lagi, untuk yang kesekian kalinya, sempurna adalah kebohongan terbesar dunia. Aku lelah dipandang buruk dimatamu, dibandingkan dengan figur sempurna di benakmu yang hanyalah sebuah imajinasi belaka. Aku tahu kita hidup di dunia fana, tapi imajinasimu diatas fana, tidak akan pernah terjadi. Tidak sampai akhir bumi ini.

Andai kau sadar, aku hanya lelah. Aku hanya butuh istirahat.

Itu saja.

Sunday, February 19, 2012

Berkunjug ke Kelas 3.

18 Februari 2012

Sebuah penyesalan besar memang saat mendengar bokap gue ngajak ke Bandung last minute banget pas gue udah bikin acara tersendiri. Keinginannya menemani sang pacar tanding JSFA di British International School hari minggu, tapi... menemani sang Ibu chemotherapy memang jauh lebih penting.

Hari sabtu pagi sekitar jam 5.30 pagi, gue dibangunin bokap dengan terburu-buru suruh bangun karena harus pergi ke Bandung. Karena tidur jam 12 malem kurang, ngantuk itu memang sesuatu yang sangat susah di lawan. Jadi, bangun pagi, beres dulu lalu sampe mobil langsung tidur lagi. Sampai di Bandung, langsung gue jemput nyokap lalu memetir ke RSHS dimana nyokap gue harus di chemo. Biasanya, nyokap gue di kamar VIP, kalo lagi chemo yang 5 jam sehingga doi harus nginep, tapi untuk hari ini karena cuman 1 jam, jadi kami bersinggah di kelas 1. Sebelah ibu pertiwiku terbaringlah seorang ibu tua yang cancer colon, dan kami sempat mengobrol. Tak lama, gue diajarin cara bayar dan lain sebagai just in case bokap ga bisa... or in other words, males -_-

Dimulai ke lantai 2, dimana kami (gue dan bokap) harus masuk ke kelas 3 untuk ke farmasi dan mendapat cap aggreement apalah. Gue melihat sebuah kekacauan pada RS itu, dimana satu ruangan yang pengap itu berisi 6 orang sekaligus dengan berbagai macam penyakit. Kesian, melihat mereka dibaringkan di sebuah ruangan sempit yang tidak berAC hanya dengan jendela dan tidak ada bel panggil suster, jadi haruslah mereka berteriak-teriak. Sebuah tragedi pertama yang gue pandang, kemiskinan diantara hidup individual dalam dunia ini.

Lalu harus balik ke bawah dan pergi ke akutansi untuk bayar karena sudah dapat approval dari lantai 2 tadi (farmasi) karena menandakan tidak adanya obat lagi yang harus di beli. Di akutansi ini, gue ngantri 1 jam hanya untuk membayar uang chemo. Anehnya, lamanya gue itu sama lamanya sama mereka yang antri untuk rawat inap dan lain sebagainya. Mengapa? Karena ternyata mereka masih menggunakan sistem kolot yang menggunakan kertas dan kekuatan manusia. Sebuah tragedi kedua dan terakhir yang gue saksikan hari ini. Betapa petinggi pemerintah lebih sibuk mengurusi dirinya sendiri dalam permainan politik dan korupsi dibanding memelihara negaranya. Entah...

What I'm trying to say is, bahwa hari ini sangat menyedihkan bukan karena nyokap gue harus ditusuk-tusuk tapi dengan gue menyaksikan betapa duit adalah 'Tuhan'nya dunia dan tanpanya manusia seperti tak berdaya. Aneh, mereka yang kaya semakin kaya disini dan yang miskin semakin miskin. Pemerintah sebaiknya melirik dan mengambil tindakan lebih lanjut dalam dunia masyarakat. Gue tidak menghimbau untuk sekaligus mereka tangani, tapi mungkin bisa dimulai dari kesehatan masyarakat. Jika memang sulit dalam merubah kebiasaan orang Indonesia yang agak kotor dan kurang mementingkan lingkungan dan kesehatan (karena gue begini) bisa mereka sediakan lebih banyak fasilitas untuk menanganinya. Jika sebuah cara tidak dapat bekerja sebaiknya mereka mencari cara lain untuk menangani sebuah masalah.

Bisa dibayangkan jika mereka (petinggi pemerintah) adalah seorang yang miskin yang tidur di sebuah gubuk. Pada suatu hari musibah penyakit berjalan bersamanya dan uang di kantong hanya beberapa rupiah. Hidup individu di dunia semakin nyata karena keberadaan uang yang telah menjadi raja dalam diri kita. Ga bisa munafik memang, gue pun butuh uang untuk hidup. Tapi... apakah hidup kita bergantung padanya? Mereka yang sakit dan tidak punya uang, tidakkah itu sebuah ketidak adilan dimana kesempatan hidup mereka kurang banyak persenannya karena semata mereka tidak punya uang. Dibanding mereka yang bernafas uang, mereka dapat melakukan semua cara untuk menghidupkan seorang badan kembali.

Memang diakhirnya, semua orang berevolusi dengan waktu dan menguap bersamanya. Memang kematian adalah sebuah janji yang sudah pasti dan tidak bisa dihindar. Tetapi mungkin jika fasilitas rumah sakit ditingkatkan, bisa dikata, kemungkinan untuk hidup bisa diperpanjang. Pemerintah... tolong, berikan rasa iba anda sedikit pada mereka yang kurang, pada kami masyarakat biasa yang tidak mendapat uang semudah kalian.

And just like that, through poverty -the most savage crime, people just disappear, one by one.

Monday, February 6, 2012

Kecewa?

Kecewa adalah saat realita tidak mengabulkan imajinasimu. Dirimu yang telah berharap banyak akan sebuah rencana, telah di gagalkan oleh dunia nyata. Yang bisa kau lakukan adalah menyaksikannya menguap bersama waktu dan membiarkan mereka bercengkrama dalam masa lalu. Menjadi sebuah penyesalan yang di kemudian hari, kau melihat kebelakang pundakmu dan menatap mereka tertawa. Tertera diatas kepalamu, kecewa.

Dapat dirasa, kecewa bukanlah sebuah hal yang siapapun inginkan. Kecewa bisa mencair menjadi tangisan sedih atau memanas menjadi amarah yang meluap. Entah yang mana yang kau pilih, tetapi satu hal yang aku tau, kecewa dapat diatasi saat kau sadar bahwa dunia memang kejam. Tidak semua rencana dapat berjalan lancar, semua impian indah dan kisah yang kelak kau ingin ceritakan pada semua orang. Dunia mungkin senang mentertawakan tangismu, tetapi dia lebih senang melihat kau bangkit. Dan memang itulah yang sepatutnya semua orang lakukan, termasuk diriku.

Mungkin semua angan indah yang aku gambar dalam angin telah berlari bersama hembusannya, melalui semua seluk beluk kejam dunia. Entah berapa es batu yang telah meleleh dalam kekecewaan, merubah wujud menjadi tetes air mata dan memanas menjadi bentakan laknat. Sehingga dalam sebuah titik buntu, aku menyadari bahwa kecewa, tangis, amarah, tidak secara instan merubah impian jadi kenyataan. Mereka hanya sebatas simbol emosi dan identitas diri. Identitas yang menunjukkan bahwa "Hey dunia, aku kecewa." Berharap lirikan simpatik dari publik, yang sebenarnya pun, tidak membawa perubahan.

Aku masih mencari jawaban yang bersembunyi. Jawaban untuk bagaimana cara mengatasi rasa kecewa yang berat? Semua foto masa lalu yang tertempel rapih di dinding kamar, hanya menjadi foto. Yang hilang, tidak akan kembali, yang layu, tidak akan bersinar, yang lewat, sudah mati. Masa lalu, hangus. Sesal, kecewa yang tumbuh bersama diriku dalam perputaran fana, entah menjadi pilihan dilematis. Antara melepaskannya dan membangun masa depan yang mirip indahnya, atau mencoba cara untuk kembali ke belakang hingga sampailah pada ujung pikiran rasional?

Detik ini, kedepan, hanya menyadarkan diri akan realita lah yang dapat aku lakukan. Sebatas imajinasi dan angan yang masih direncanakan Tuan, apakah nyata nanti? Atau tidak. Semua dapat dipelajari sesudah, dapat di analisa, dapat di lupakan. Kebahagiaan dan kekecewaan itu sama. Mereka akan datang, mereka akan pergi. Seperti aku, yang entah kapan, akan pergi berjalan, bersama waktu.

Friday, January 20, 2012

La Facade

Hari itu, Ms. Hakaraia (New Zeland, 36, Single) sedang berada dalam kelas 10 Advanced, English Literature. Membahas sebuah novel yang sebenarnya gue sendiri baru baca up to Bab 3. Yang seharusnya gue selesai sampai halaman 25. Akhirnya, pada opening test sebelum mulai kelas, gue membawa hasil nilai 0. Sebuah hal yang membuat kelas ini menarik adalah guru itu tersebut. Dia bisa dikata atheist, tapi tidak membawa orang berujung kepada hal itu. Dia tidak menarik viktim. Berhubung akhir-akhir ini gue suka filsafat metaphysics (theology) dan philosophy of mind, gue mulai melihat pertanyaan yang absurd maupun sesat -namun tidak menurut saya. Tapi ini cerita berbeda...

Pada hari ini, kelas Ms. Tess Hakaraia memberikan sebuah inspirasi besar untuk personal project yang saya harus selesaikan untuk meluluskan diri dari kurikulum IB. Yaitu, mengenai society and how average it is.

"Dividing society into 6 parts. 5% are very smart, 20% are penultimately smart, 25 % are okay smart, 25% are okay because to be here, you have to reach at least 100 IQ points. It means you graduate high school. 20 % aren't that good, 5% are ... sorry to say, stupid, but they have unique ideas. But what does society do? We wouldn't listen to the minority. We would only listen to the 50% of average majority. Society is being ruled by the average people. Now ask yourself, do you want to be average?"

Sesuatu yang membuat gue akhirnya terbangun pada pelajaran itu. Dia sebenarnya membuat sebuah statement point yang benar. Masyarakat telah di kontrol dengan kebanyakan orang rata-rata. Bukan hanya dari sisi IQ atau otak, tapi juga konsep pikiran dan perspektif atau pandangan terhadap hidup. Baik secara moral maupun non-moral seperti fashion dan lainnya. Banyak gue liat di tumblr, banyak teen girls, yang hipster dan anorexic hanya untuk fit in to the society. The society by means "the average 50% of the whole majority"

Dapat dikata, sebenarnya semua manusia, secara tidak disadari adalah orang yang munafik. Setiap hari bangun dari tempat tidur dan berdandan agar La Facade indah dan dapat menarik perhatian kumbang yang mencari bunga. Kita hanya bisa menjadi diri kita sendiri, hanya pada saat kita sendiri. Gue, bisa lepas penampilan dan bisa bebas jadi gue, hanya saat gue di kamar. Jujur, kalau keluar kamar, La Facade harus di pasang meski sedikit, di depan orang tua. Di depan mereka yang membesarkan saja sudah memasang 'topeng' dan di depan masyarakat, topeng itu semakin dieratkan oleh kita semua, sadar atau tidak.

Sekarang tanyalah pada dirimu sendiri. Apakah anda cukup berani untuk berdiri di sekerumunan orang yang duduk dan membawa tren baru yaitu berdiri melainkan duduk? Berbeda itu tidak apa. Kita lahir dengan hak asasi manusia, bebas dengan free will manusia bernafas. Dari situ, kita bebas menjadi apa yang kita mau. Jadilah 20% dan 5% orang unik tadi. Jadilah mereka yang di pandang aneh, karena sesungguhnya, keanehan itu adalah sebuah poin plus untuk diri anda.

Berbedalah,
hiraukan apa kata masyarakat.

Ignore what the average people say. Be abnormal.

Salam damai.

Saturday, January 7, 2012

Manusia

Aku bernafas ditengah kematian.

Aku lihat mereka tersenyum,

Tapi mereka disana menangis.

Aku lahir seorang jiwa,

Aku manusia.

Aku seorang jiwa yang terdampar di dalam wujud konkrit ini. Aku bisa menyentuh, aku merasakan mereka yang mati dan kalian yang hidup. Aku melihat hal yang memacu rasa dan pikiran berbeda-beda. Aku berada dimana? Mereka bilang aku tinggal di bumi, apa itu bumi? Mereka bilang penampilanku bagus, apa yang sebenarnya mereka lihat? Mereka bilang aku berumur satu hari, apa itu hari?

Aku berterimakasih,

Telah diperbolehkan Tuan melihat waktu berlari.

Aku berterimakasih,

Telah diperbolehkan Tuan melihat wujud berubah.

Beranjak dewasa, sekarang aku mengerti semuanya. Mereka yang beri cinta dan mereka yang beri benci telah buktikan bahwa hidup itu tidak seindah angan. Pula tidak mudah. Memang tidak ada yang pernah berkata itu, apa lagi di tengah kematian, aku dan lainnya hidup. Apakah ini siklus yang tak kunjung henti? Apakah manusia di perbaharui atau ternyata hanya bermain komedi putar dengan awal dan akhir? Mereka yang menghembus nafas terakhir telah berpindah jiwanya ke bayi itu yang baru lahir. Atau di dalam bayi itu adalah jiwa baru yang suci? Mereka bilang banyak tentang aku, dan aku menentang banyak tentang mereka. Perasaan mengubah pikirannya dalam sepersekian detik. Begitu saja. Apa yang memicu perubahan itu? Sifat orang lain kah terhadap mereka? Perbedaan kah? Apa?

Cinta berkata, kepastian itu adalah suatu yang penting. Tapi jika kau duduk sejenak di bulan dan melihat ke bumi, apakah kepastian itu selalu ada?

Aku dan kamu,

Bisa definisikan diri sendiri.

Aku dan kamu,

Bersama, berdiri di sini.

Tapi aku dan kamu tahu,

Kita semua berbeda.

Pendapat dan perasaan yang berbeda meluap menjadi amarah yang berkerja sama dengan ego. Aku ingin menang. Hanya itu yang tertanam dalam semua pikiran jiwa-jiwa ini. Aku ingin sukses, aku ingin bahagia. Tetapi kadang, kebahagiaan itu kau raih dengan memberi kebahagiaan kepada orang lain. Aku… jujur, adalah seorang manusia yang terkekang keegoisan. Argumen demi argumen yang tak kunjung henti hanya berdiri di situ mentertawakan aku dan kamu yang sedang berbeda pendapat. Jawaban apakah yang harus aku ucap? Aku harus bagaimana? Rahasia siapa?

Aku melihat keindahan,

Aku ingin meraih mereka.

Aku mendengar melodi hati,

Aku ingin beli mereka.

Aku manusia,

Aku ingin semua.

Kadang aku tak bersyukur atas apa yang aku punya. Jika aku lihat mereka, meminta, mengemis di jalan pada saat lampu merah, aku berpaling dengan rasa tak perduli. Aku tidak memperdulikan apa yang aku punya, sampai suatu hari semua keindahan hidup menjadi kehampaan. Setelah sadar, aku sedang jatuh dalam sebuah lubang kelinci yang dalam. Aku harus keluar dan meraih awan lagi.

Dalam kedalaman ini, bisikan iblis memercikan api benci pada Tuan. Pilihan ada di tangan kita, antara kembali bersyukur atau hanya menyerah dan berbuat tiada. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika aku terus di sini, maka aku meraih tangan Tuan dan memulai bersyukur. Atas kepedihan, kehampaan dan kesenangan yang biasa saja dibanding mereka yang di atas, aku tetap bersyukur.

Tuan tolong,

Aku berada dimana?

Tanah kering yang tak tahu seberapa

Membentang tanpa henti

Infinitif.

Aku menuju cahaya,

Tetapi kegelapan menjadi bayanganku.

Aku kemana?

Aku berawal sebuah nafas, aku pula berakhir sebuah nafas. Nafas di bumi. Itu aku dan jiwaku. Tetapi di gurun ini, aku telah memulai jiwa dari bayi. Tidak suci, membawa berat beban dosa duniawi. Aku tak tahu harus mengikuti cahaya yang entah menuju ke mana. Pula bayangan yang tak lengah membuntuti. Aku hanya sendiri, dengan bisikan suara aneh berbagai macam bahasa. Aku mendengar doa mereka di bumi. Aku mati.

Thursday, January 5, 2012

Sang Kembaran

Aku selalu bersembunyi.
Entah itu dibalik tawa atau senyuman,
Mungkin keduanya?

Aku tak ada yang mengerti.
Hanya kertas kosong dan pensil yang tahu,
jati diri seorang Hawa pribumi.
Luapan hati dan pikiran berbelit satu jiwa muda,
mereka bersembunyi dibalik tawa dan senyuman.

Mereka tak pernah tahu,
seorang gelaslah aku sebenarnya.
Mudah menjadi kepingan tak bermakna,
saat aku tertarik grafitasi dan menghantam keras hidup.

Mereka tak pernah sadar,
terkadang aku menggunakan muka sang kembaran.
Yang hidup hanya dalam hati.
Aku menggunakan topeng bahagia,
dimana ternyata ia jauh dari cahaya.
Dimana ternyata Hawa terpupuk dalam pupus tragedi dan ironi.

Aku lelah bersembunyi,
Namun hanya kertas kosong dan pensil yang mengerti.
Pula gelaslah yang tahu kerasnya hidup dan rapuh wujudku.
Juga kembaran jiwa yang menjelma hanya dalam hati.

Sekarang aku mengaku,
mencoba merangkul pahit fakta dengan tulus,
Biarkan diri beranjak dewasa.
Tatap mataku dan kau tahu,
betapa selama ini yang kau kenal,
Dialah sang kembaran.

Sunday, January 1, 2012

201n

Selamat tahun baru.

Awal tidak menentukan antara dan akhir. Semoga semuanya baik saja.

Selamat datang 2012,
tangisan pertama taun ini.

Selamat.
Annisa Tiara

Saturday, December 31, 2011

Obsession

The crawling numbness began its way,

oozing thin from the valance tip of fingers.

Pushed back against boundaries

shall grips mental sanity,

overcoming whispers of devil’s thought keenly.

Struggling for disparities of which are good and bad.

Seeking through the mirror of rage,

nevertheless consciousness evaporates through time.

Who’s reflection appeared then in the parallel world?

Familiarly now *Perses has awakened,

Possessing mind and souls for words spoken define.

Counting stars in the damp sky is not enough,

for giving off my mind away of sight.

What was made has been done by past.

Through it all for one wish closing near bitterness.

The utter truth amongst lies

and nothing.

*Perses : Greek God of Destruction