My photo
Currently seeking therapy through literature. Wrote a novel once, Eccedentesiast (2013), and will proceed on writing casually. Don't take these writings seriously, don't let it question yourself.
Showing posts with label lesson. Show all posts
Showing posts with label lesson. Show all posts

Friday, February 8, 2013

The Loss - English Poem Assignment


The azure sky hadn’t felt it yet.
Even when the oozing wind
whispers melodies of despair.
Choirs were singing mutely to ears
as thoughts revolve around her.

All she was, is listless
So still, so silent, and breathless.
The sky now feels and turned grey.
Darkening through time to the path of black.

Silently I whisper spells to thin Air.
To “please take care of my mom”
In between the Beginnings and the Ends.
“Amen” as I closed my begs
to the figureless figure that exists in faith.
And forever will exist.

– Annisa Tiara

Monday, February 27, 2012

Untuk yang Kesekian Kalinya, Sempurna.

Aku harap dunia berhenti sejenak agar bisa memandang sebuah fakta bahwa kesempurnaan itu hampa dan kosong. Kesempurnaan itu cerita, angan, impian. Inti, kesempurnaan itu bohong.

Aku ingin hidup yang indah. Dimana ibu bapakku sehat dan akupun begitu. Aku ingin nilai dan sekolahku bagus, dengan uang yang berkecukupan atau agak lebih agar bisa berbagi tawa pada mereka yang kekurangan. Aku ingin memiliki kekasih yang pengertian sehingga kami bisa hidup dalam kedamaian. Aku ingin hidupku bahagia.

Berbalik kepada fakta, hidupku jauh dari situ. Apakah hidupmu juga? Jika tidak, maka engkau harus berterimakasih kepadaNya kawan. Aku lelah sangat dengan semua keinginan dia yang mendorongku ke batas keletihanku setiap hari. Entah kesempurnaan macam apa lagi yang ia minta dariku, tapi ternyata selama ini semua kebaikanku dilihat tembus olehnya.

Entah mengapa semua kejelekanku yang menjengkelkan itu (untuknya) selalu diingat sementara kebaikanku dan prestasi dilupakan begitu saja. Apa karena jengkel itu lebih sering dari pada kebahagiaan yang aku berikan? Aku merasa sakit, jika mengingat kata yang disebutnya tadi. Tidak ada yang tahu mengapa aku selalu ditunjuk sebagai manusia yang buruk dimatanya. Apakah itu sebuah motivasi agar aku mau menjadi yang lebih baik? Atau memang sebuah kutukan yang dia ulang sering kali? Tapi jika itu sebuah motivasi, aku tidak merasa dimotivasi, aku merasa ditindas oleh bayangan sempurnanya. Oh... aku mohon, aku tidak sempurna.

Banyak manusia yang bisa dikata stress karena mengejar sesuatu agar bisa mencapai kesempurnaan. Apa daya manusia berlari sekuat tenaga untuk mencapainya? Karena jikapun kau berlari mengelilingi dunia, akan kau sadar nanti bahwa, sekali lagi, untuk yang kesekian kalinya, sempurna adalah kebohongan terbesar dunia. Aku lelah dipandang buruk dimatamu, dibandingkan dengan figur sempurna di benakmu yang hanyalah sebuah imajinasi belaka. Aku tahu kita hidup di dunia fana, tapi imajinasimu diatas fana, tidak akan pernah terjadi. Tidak sampai akhir bumi ini.

Andai kau sadar, aku hanya lelah. Aku hanya butuh istirahat.

Itu saja.

Friday, January 20, 2012

La Facade

Hari itu, Ms. Hakaraia (New Zeland, 36, Single) sedang berada dalam kelas 10 Advanced, English Literature. Membahas sebuah novel yang sebenarnya gue sendiri baru baca up to Bab 3. Yang seharusnya gue selesai sampai halaman 25. Akhirnya, pada opening test sebelum mulai kelas, gue membawa hasil nilai 0. Sebuah hal yang membuat kelas ini menarik adalah guru itu tersebut. Dia bisa dikata atheist, tapi tidak membawa orang berujung kepada hal itu. Dia tidak menarik viktim. Berhubung akhir-akhir ini gue suka filsafat metaphysics (theology) dan philosophy of mind, gue mulai melihat pertanyaan yang absurd maupun sesat -namun tidak menurut saya. Tapi ini cerita berbeda...

Pada hari ini, kelas Ms. Tess Hakaraia memberikan sebuah inspirasi besar untuk personal project yang saya harus selesaikan untuk meluluskan diri dari kurikulum IB. Yaitu, mengenai society and how average it is.

"Dividing society into 6 parts. 5% are very smart, 20% are penultimately smart, 25 % are okay smart, 25% are okay because to be here, you have to reach at least 100 IQ points. It means you graduate high school. 20 % aren't that good, 5% are ... sorry to say, stupid, but they have unique ideas. But what does society do? We wouldn't listen to the minority. We would only listen to the 50% of average majority. Society is being ruled by the average people. Now ask yourself, do you want to be average?"

Sesuatu yang membuat gue akhirnya terbangun pada pelajaran itu. Dia sebenarnya membuat sebuah statement point yang benar. Masyarakat telah di kontrol dengan kebanyakan orang rata-rata. Bukan hanya dari sisi IQ atau otak, tapi juga konsep pikiran dan perspektif atau pandangan terhadap hidup. Baik secara moral maupun non-moral seperti fashion dan lainnya. Banyak gue liat di tumblr, banyak teen girls, yang hipster dan anorexic hanya untuk fit in to the society. The society by means "the average 50% of the whole majority"

Dapat dikata, sebenarnya semua manusia, secara tidak disadari adalah orang yang munafik. Setiap hari bangun dari tempat tidur dan berdandan agar La Facade indah dan dapat menarik perhatian kumbang yang mencari bunga. Kita hanya bisa menjadi diri kita sendiri, hanya pada saat kita sendiri. Gue, bisa lepas penampilan dan bisa bebas jadi gue, hanya saat gue di kamar. Jujur, kalau keluar kamar, La Facade harus di pasang meski sedikit, di depan orang tua. Di depan mereka yang membesarkan saja sudah memasang 'topeng' dan di depan masyarakat, topeng itu semakin dieratkan oleh kita semua, sadar atau tidak.

Sekarang tanyalah pada dirimu sendiri. Apakah anda cukup berani untuk berdiri di sekerumunan orang yang duduk dan membawa tren baru yaitu berdiri melainkan duduk? Berbeda itu tidak apa. Kita lahir dengan hak asasi manusia, bebas dengan free will manusia bernafas. Dari situ, kita bebas menjadi apa yang kita mau. Jadilah 20% dan 5% orang unik tadi. Jadilah mereka yang di pandang aneh, karena sesungguhnya, keanehan itu adalah sebuah poin plus untuk diri anda.

Berbedalah,
hiraukan apa kata masyarakat.

Ignore what the average people say. Be abnormal.

Salam damai.

Saturday, January 14, 2012

Perputaran

Rumput tetangga selalu lebih hijau.

Terkadang, pepatah itu sering disalahartikan oleh kita. Sebenarnya, tujuan kata itu adalah agar kita memotifasi diri sendiri untuk rajin menanam dan menjaga rumput kita sendiri. Tidak perlu melihat lalu mencuri, tidak perlu mengintip dan mencari kesalahan untuk diumbar. Bukan artinya kita melihat dengan rasa iri dan dengki tapi artinya kita menatap dan menganalisa bagaimana rumput mereka begitu hijau.

Rumputku kurang hijau dibanding dengan mereka. Dulu aku mengintip dengan iri karena mereka lebih bahagia dibanding aku. Ibuku sakit, papaku bankrut dan aku berlari ke asap rokok dan tenggelam dengannya. Aku melirik kanan dan kiri, melirik rumput di keluarga atas sana yang rumahnya diatas bukit dekat dengan awan. Aku menanjak terus gunung itu untuk mencapai rumah mereka dan yang aku lakukan hanyalah ber-iri ria.

Aku tersandung kembali ke rumputku. Aku tatap dan meratapi taman ini. Lalu aku tersentak. Suatu bisikan membangunkan hati untuk tidak lagi iri. Mengapa? Karena sadar atau tidak, untuk mencapai ke rumah mereka diatas, aku harus menanjak. Aku harus berusaha untuk melihat sebuah pemandangan indah diatas sana. Dan aku yakin yang mereka lakukan pula begini. Mereka bercocok tanam dengan rajin dan menyiram taman dengan taat sehingga semuanya indah. Mungkin, kadang hujan pun turun dengan lebat dan banjir melanda, tetapi mereka kembali bangkit.

Aku tak pernah sadar, betapa banyaknya waktu yang aku buang untuk melihat rumput mereka dengan iri. Aku tak pernah sadar betapa banyaknya waktu itu dapat aku perbuat untuk membelai rumputku sendiri. Aku telah membuang waktu dengan hati iri. Pula, ternyata, tidak ada perubahan yang aku dapat dari itu.

Mungkin rumput mereka lebih hijau dari rumputku, tapi aku tahu bahwa jika aku buang waktu di rumputku sendiri ketimbang berputar di rumput orang lain, rumputku akan lebih hijau. Aku yakin, jika aku fokus dengan rumputku sendiri, semuanya akan lebih baik. Meski dibutuhkan waktu yang cukup lama, tetapi jika hati sabar, dia yang menanti akan mendapat yang terbaik.

Tidak ada yang instan, kelak aku yakin rumputku seperti mereka. Jika saatnya tiba, aku akan ke bawah gunung dan membantu mereka yang kurang hijau.

Semata-mata agar aku dapat melihat senyum bahagia mereka yang menyegarkan udara.

Saturday, December 31, 2011

Kertas

Kosong. Itu yang aku tatap di layar ini. Putih, hanya itu. Tanpa sepatah kata pun. Semua kata di dunia tidak ada yang terlintas sedetikpun di otakku. Apa yang sebenarnya inginku tulis? Malam indah, tanpa bintang, dingin. Malam natal yang dipercaya membawa kejutan bagi mereka yang meminta. Malam Minggu yang spesial. Saat aku berhenti di lampu merah, mereka mengetuk kaca mobilku dan menawarkan berbagai pilihan bunga indah. Aku berpaling, merasa tidak melihat siapapun. Sesampaiku di rumah, aku memeluknya dengan erat. Dia yang aku tunggu-tunggu untuk bertemu setelah dipisahkan ilusi. “Aku rindu padamu.” Hanya itu yang dapat aku ucapkan, tidak lebih dan tidak kurang, semua terasa hangat, emosional. Aku lepaskan dirinya dan mencari gelas untuk minum, sebenarnya hanya ingin menghapus air mata dari ujung lirikan.


Mengalihkan topik adalah keahlianku, menerawang ruangan lalu menanyakan apa yang baru. Aku melihat seorang duduk di kursi depan dengan mata yang sayu, dia yang aku jadikan pengalihan kali ini. “Drama apa yang kulewati?” Dia memberiku isyarat mata memberi tahu “nanti.” Penasaran, aku ajak dia ke suatu tempat tersembunyi.


Waktu seakan berhenti bersama dunia. Tempat ini hanya milik dirinya dan aku. Menjelaskan hal yang belum aku mengerti jauh sebelum tragedi tiga hari yang lalu. Yang aku sekarang percaya adalah, apapun masalah adalah sebuah anugrah dari Tuhan. Hanya itu. Perih? Pikirkan berlian yang diasah. Sebelum dia menjadi berlian yang matang, hanyalah sebuah gumpalan putih kusam. Saat dia diasah, lalu akan menjadi sebuah mahakarya pemikat mata. Proses itupun yang di sebut kepedihan hidup. Meski lubang kelinci ini dalam, apapun bisa kau lakukan untuk keluar. Pilihan bertaburan bagaikan bintang menyinari malam hari, yang mana yang ingin kau petik itulah pilihan. Menjadi batang anggur yang layu karena tidak punya tumpuhan yang kuat? Atau menjadi batang anggur yang menjadi tumpuhan bagi dirinya sendiri? Macam orang berbeda, langkah yang mereka ambil? semua pilihan.


Malam ini malam natal. Dia sedang berdoa kepadaMu agar mendapat berkah pada natal hari esok. Mengangkat tangannya membuka salib di dada dan mulai berbisik rayuan doa. Akupun telah melakukan hal yang sama dengan kedua tanganku. Setiap malam aku membukanya dan memohon keputusan apapun dariNya. Bagaikan membasuh muka tanpa air, lalu aku akhiri bisikan fanaku. Bisikan ini belum dinyatakan. Dia selalu berkata kepadaku bahwa “Jika permohonanmu belum dikabulkan, maka tulus dan sabarmu diuji sayang.” Percaya bahwa pengabulan ini hanya sebatas ‘pending’ dan belum di nafaskan karena akan ada sesuatu yang Ia rencanakan. Sesuatu yang pasti lebih baik. Atau jika tak sebaik itu, pasti akan ada warna baru dalam lembaran ini.


Ia pergi keluar. Aku berdiam di ruang hampa itu. Berfikir dalam kesepian. Hanya nafas diriku yang bisa didengar dan gaung TV dari depan. Aku berkaca. Mengedipkan kelopak mata lelah ini dan mulai berhitung ‘roti’ yang aku dapat dariNya hari ini. Susah, bagaikan menghitung helaian rambut yang aku sisir ini. Lupakan, roti ini membuat semua luka sayatan seakan tidak pernah ada. “Sayang ayuk makan!” Teriak dia dari luar, “Iya mom”, jawabku. Dan lalu, saat aku keluar ruangan ini, aku terasa dilahirkan kembali. Aku menjadi seorang yang baru. Aku yang dulu punah tersenyum. Tersadari, ini lah berkah malam natalku.