- Tiara ♥
- Currently seeking therapy through literature. Wrote a novel once, Eccedentesiast (2013), and will proceed on writing casually. Don't take these writings seriously, don't let it question yourself.
Wednesday, August 14, 2013
Jakarta Kontemporer
Saturday, March 2, 2013
Solipsisme
Wednesday, February 27, 2013
Apa?
Apakah kita semua, sebagai umat manusia yang berakal budi, hanya berpura-pura untuk tidak mengetahui apa-apa? Atau apakah kita semua dengan begitu saja percaya? Kita berusaha sebisa mungkin untuk menjadi seorang yang rasional bahkan dengan tidak memperdulikan isi hati sendiri, atau sama sekali tidak memperdulikan orang lain.
Perasaan,
pemikiran,
pilihan,
kemungkinan,
sebenarnya apa inti dari semua ini?
Friday, February 8, 2013
The Loss - English Poem Assignment
Wednesday, February 6, 2013
Pergi
Tapi,
Sunday, February 3, 2013
Bebas
Sunday, January 27, 2013
Tanda Tanya
naik-naik halilintar
masak ular matang-matang
pusing dibuat putar-putar.
tipis benang mimpi nyata
gulita kelam buat puing pusing.
tanya apa yang siapa saja,
terperangkap sudah di jaring-jaring.
mwmt.
Monday, February 27, 2012
Untuk yang Kesekian Kalinya, Sempurna.
Sunday, February 19, 2012
Berkunjug ke Kelas 3.
Monday, February 6, 2012
Kecewa?
Sunday, February 5, 2012
Pernah Ada
Hari ini aku duduk sendiri dengan bayanganku. Aneh, tidak seperti biasanya aku rasakan Jakarta yang sesibuk semut, memberikan aku kesempatan untuk berhening. Entah bagaimana cara mendeskripsikannya, tapi aku merasa tenang, nyaman. Angin meniupkan nyanyian merdunya, menghembuskan nafasnya melewatiku dan sela-sela dedaunan. Mengajak mereka menari dalam keheningan. Matahari tidak berekspresi hari ini, mungkin sedikit kecewa saat dia tahu dia akan segera diusir oleh awan kelam.
Di sudut pandangan kosong ini, seorang lelaki sedang berjalan sendiri dengan santainya, menikmati kesejukan sore. Sepertinya aku mengenal dia, tidak mungkin. Apakah ini nyata? Atau lagi-lagi hanya imajinasi bual? “Angga!” lelaki itu terdiam dan aku tersenyum. Merasakan sebuah rasa lega bahwa nama yang aku sebut adalah namanya. Bukan nama orang lain, tapi dia. Merasakan rasa lega karena dia mendengarku memanggil, tidak berpaling dan perduli. Merasa rasa lega bahwa dia ternyata ada.
Dia melirik bingung ke segala arah taman, mencari asal suara yang memanggil. Lalu hanya terdiam menyipitkan mata ke arahku. Aku berdiri dengan kaki gemetar, meyakinkan bahwa itu memang Dewangga Darma Putra, dia ada. Aku berjalan menghampirinya dan dengan senyuman tulus, dia menyambutku. Tapi entah kenapa, jalanku kearahnya tak kunjung henti. Aku terus melambai kepadanya dan dia hanya tersenyum tapi lalu, melanjutkan jalannya. Aku terus berteriak dan memanggil dan mencoba meraih, tapi seakan semua berjalan menjauh dariku, termasuk Dewangga. Aku menangis dan terus memanggil tapi dia terus menjauh.
Aku terbangun.
Aku hanya terdiam menatap langit kamar yang putih bersih, seakan suci. Mataku mulai menggumpal dan air mata mulai menetes. Entah alasan apa lagi kali ini yang aku harus buat untuk menutupi bekas tetesan yang membercak di mukaku pagi ini. Alasan untuk siapa? Untuk diriku sendiri. Aku butuh alasan kenapa aku harus menangisi sesuatu yang tidak lagi nyata. Mungkin karena aku terlalu bodoh, atau mungkin karena dia membuatku merasa hidup.
"Sinta, ayuk bangun dong udah waktunya kuliah!"
Angga, aku merindukan ini. Pagi-pagi kau mengetuk pintu kosanku dan membuatku bersemangat untuk pergi menjelajah dunia pelajar. Membaca buku yang tebalnya setinggi Eiffel Tower. Saat aku berbaring sakit, kau berada disitu. Saat aku susah makan kau yang memaksaku.
Dengan ini cinta tumbuh perlahan.
Apa aku yang salah Ngga? Atau ini salahmu? Mungkin memang kita tidak akan satu dalam nyata, tapi aku tahu kau sayang padaku selalu.
Bodoh, pernah kau bilang bukan jarak bukan masalah? Kau akan terus menungguku dari waktu ke waktu, meski berputar dalam ilusi kilometer.
Dalam ilusi jam.
Dalam ilusi dunia.
Ingat taman itu? Taman yang mimpi pagi ini mengingatkan bagaimana kita bertemu. Aku duduk disitu sendiri. Kau sedang berjalan sendiri dan aku melihat uangmu jatuh. Entah, aku menghampirimu dan memberikan apa yang layaknya kau simpan. Pertemuan mata Adam dan Hawa yang merubah dunia persilatan. Kemudian waktu bersilaturahmi dengan perasaan. Tak kunjung bosan aku membuang waktuku bersamamu. Bahan candaan dan obrolan tidak pernah hangus saat kita bersama.
Tapi saat kau pergi, semua sirna bukan?
Dewangga Darma Putra.
Entah ini salah siapa, aku tidak ingin menunjuk.
Entah mengapa ini terjadi, aku tidak ingin tahu.
Entah kemana kamu pergi, tapi aku selalu padamu.
Semoga Tuan memberikan tempat terbaik disana Angga.
Thursday, February 2, 2012
Dimensi Sebrang
Friday, January 20, 2012
La Facade
Sunday, January 15, 2012
Philosophycal Question
Saturday, January 14, 2012
Perputaran
Saturday, January 7, 2012
Manusia
Aku bernafas ditengah kematian.
Aku lihat mereka tersenyum,
Tapi mereka disana menangis.
Aku lahir seorang jiwa,
Aku manusia.
Aku seorang jiwa yang terdampar di dalam wujud konkrit ini. Aku bisa menyentuh, aku merasakan mereka yang mati dan kalian yang hidup. Aku melihat hal yang memacu rasa dan pikiran berbeda-beda. Aku berada dimana? Mereka bilang aku tinggal di bumi, apa itu bumi? Mereka bilang penampilanku bagus, apa yang sebenarnya mereka lihat? Mereka bilang aku berumur satu hari, apa itu hari?
Aku berterimakasih,
Telah diperbolehkan Tuan melihat waktu berlari.
Aku berterimakasih,
Telah diperbolehkan Tuan melihat wujud berubah.
Beranjak dewasa, sekarang aku mengerti semuanya. Mereka yang beri cinta dan mereka yang beri benci telah buktikan bahwa hidup itu tidak seindah angan. Pula tidak mudah. Memang tidak ada yang pernah berkata itu, apa lagi di tengah kematian, aku dan lainnya hidup. Apakah ini siklus yang tak kunjung henti? Apakah manusia di perbaharui atau ternyata hanya bermain komedi putar dengan awal dan akhir? Mereka yang menghembus nafas terakhir telah berpindah jiwanya ke bayi itu yang baru lahir. Atau di dalam bayi itu adalah jiwa baru yang suci? Mereka bilang banyak tentang aku, dan aku menentang banyak tentang mereka. Perasaan mengubah pikirannya dalam sepersekian detik. Begitu saja. Apa yang memicu perubahan itu? Sifat orang lain kah terhadap mereka? Perbedaan kah? Apa?
Cinta berkata, kepastian itu adalah suatu yang penting. Tapi jika kau duduk sejenak di bulan dan melihat ke bumi, apakah kepastian itu selalu ada?
Aku dan kamu,
Bisa definisikan diri sendiri.
Aku dan kamu,
Bersama, berdiri di sini.
Tapi aku dan kamu tahu,
Kita semua berbeda.
Pendapat dan perasaan yang berbeda meluap menjadi amarah yang berkerja sama dengan ego. Aku ingin menang. Hanya itu yang tertanam dalam semua pikiran jiwa-jiwa ini. Aku ingin sukses, aku ingin bahagia. Tetapi kadang, kebahagiaan itu kau raih dengan memberi kebahagiaan kepada orang lain. Aku… jujur, adalah seorang manusia yang terkekang keegoisan. Argumen demi argumen yang tak kunjung henti hanya berdiri di situ mentertawakan aku dan kamu yang sedang berbeda pendapat. Jawaban apakah yang harus aku ucap? Aku harus bagaimana? Rahasia siapa?
Aku melihat keindahan,
Aku ingin meraih mereka.
Aku mendengar melodi hati,
Aku ingin beli mereka.
Aku manusia,
Aku ingin semua.
Kadang aku tak bersyukur atas apa yang aku punya. Jika aku lihat mereka, meminta, mengemis di jalan pada saat lampu merah, aku berpaling dengan rasa tak perduli. Aku tidak memperdulikan apa yang aku punya, sampai suatu hari semua keindahan hidup menjadi kehampaan. Setelah sadar, aku sedang jatuh dalam sebuah lubang kelinci yang dalam. Aku harus keluar dan meraih awan lagi.
Dalam kedalaman ini, bisikan iblis memercikan api benci pada Tuan. Pilihan ada di tangan kita, antara kembali bersyukur atau hanya menyerah dan berbuat tiada. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika aku terus di sini, maka aku meraih tangan Tuan dan memulai bersyukur. Atas kepedihan, kehampaan dan kesenangan yang biasa saja dibanding mereka yang di atas, aku tetap bersyukur.
Tuan tolong,
Aku berada dimana?
Tanah kering yang tak tahu seberapa
Membentang tanpa henti
Infinitif.
Aku menuju cahaya,
Tetapi kegelapan menjadi bayanganku.
Aku kemana?
Aku berawal sebuah nafas, aku pula berakhir sebuah nafas. Nafas di bumi. Itu aku dan jiwaku. Tetapi di gurun ini, aku telah memulai jiwa dari bayi. Tidak suci, membawa berat beban dosa duniawi. Aku tak tahu harus mengikuti cahaya yang entah menuju ke mana. Pula bayangan yang tak lengah membuntuti. Aku hanya sendiri, dengan bisikan suara aneh berbagai macam bahasa. Aku mendengar doa mereka di bumi. Aku mati.