My photo
Currently seeking therapy through literature. Wrote a novel once, Eccedentesiast (2013), and will proceed on writing casually. Don't take these writings seriously, don't let it question yourself.
Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts

Wednesday, August 14, 2013

Jakarta Kontemporer

Jakarta,
Kalau tidak macat, padat.
Kalau tidak padat, panas.
Kalau tidak panas, banjir.
Kalau tidak panas, padat, macat, banjir...

bukan jakarta.

Jakarta,
2013. 

Tuesday, March 19, 2013

Satu Titik

Satu titik kita bertemu.
Berpandang lalu bertukar rasa.
Tersenyum dalam keluguan.

Langit sore yang indah,
hanya aku saksikan sendiri
dengan bayanganku yang telah pergi.

Andai foto dapat dihidupkan.
Sudahku hidupkan berpuluh juta kali
kenangan yang terdiam di kursi belakang.

Satu titik kita bertemu.
Satu titik kita berpisah.
Berpandang lalu berlinang air mata.
Begitu saja,
semuanya hilang.

Friday, February 8, 2013

The Loss - English Poem Assignment


The azure sky hadn’t felt it yet.
Even when the oozing wind
whispers melodies of despair.
Choirs were singing mutely to ears
as thoughts revolve around her.

All she was, is listless
So still, so silent, and breathless.
The sky now feels and turned grey.
Darkening through time to the path of black.

Silently I whisper spells to thin Air.
To “please take care of my mom”
In between the Beginnings and the Ends.
“Amen” as I closed my begs
to the figureless figure that exists in faith.
And forever will exist.

– Annisa Tiara

Thursday, February 2, 2012

Dimensi Sebrang

Aku berdiri,
menatap matanya di sebrang.
Melirik kelopak lentik,
mengatup indah tiap detik.

Dia berdiri didepanku,
menatap dalam keheningan.
Bagai melirik hantu dimensi sebrang.
Tiap hembus diteliti,
berusaha terawang isi hati.

Entah kuasa mata hilang,
dan hembusan nafas mulai menggumpal.
Dijadikan itu tetesan bening,
yang membisukan dia yang di sebrang.
Lirikannya bertanya, "ada apa?"

Dia mulai merintih,
dengan nafas berat, tertatih.
Mengapa mataku meniru?
Pedih tiba dalam sekatup lentik,
lalu langit berdegup kelabuan.

Entah kuasa diri hilang,
nafas usang, tersentak tetesan air.
Berlomba dengan rasa,
kewarasan mengalahkan diri.

Langit mengikuti situasi.
Menangis dengan hembusan awan suram.
Sempatnya matahari bersembunyi,
dengan aku yang duduk terdiam.

Aku hanya menatap dirinya
yang sedang duduk di cermin.

Saturday, January 7, 2012

Dia Tahu

Terik sinar indah menembusku,

Sekarang saat aku beranda tamu.

Terang saat aku membuka mata,

Pula menembus kelopak tipis yang tertutup.


Langit memang tahu apa luapan hati,

Tanpa harus dibisik jawaban picik.

Tetesan permata telah berhenti.

Saat suasana semesta beriang gembira.


Terkadang aku melayang,

Entah kemana dengan tawa dan cinta.

Bintang menuntun jalanku,

Seakang mengharuskanku kesuatu sana.

Kemana?


Lupa diri, aku ditangkap emosi.

Dikekang oleh ego dunia,

Dihimpit oleh pendapat berbeda.

Argumen disana tertawa,

Melihat Adam dan Hawa Tuan

Bersilaturahmi dengan amarah.


Terkadang aku terjatuh,

Entah kemana dengan tangis dan benci.

Air surut menuntun jalanku,

Seakan mengharuskanku kesuatu sini.

Dimana?


Hembusan dingin menembusku,

Saat aku disana tanpa tamu.

Gelap saat aku menutup mata,

Pula saat aku membuka mereka.


Langit seakan tahu apa luapan hati,

Tanpa harus dibisik jawaban rahasia.

Tetesan permata membanjiri kaki,

Pula air mataku, yang ikut menangis dengan langit.

Thursday, January 5, 2012

Sang Kembaran

Aku selalu bersembunyi.
Entah itu dibalik tawa atau senyuman,
Mungkin keduanya?

Aku tak ada yang mengerti.
Hanya kertas kosong dan pensil yang tahu,
jati diri seorang Hawa pribumi.
Luapan hati dan pikiran berbelit satu jiwa muda,
mereka bersembunyi dibalik tawa dan senyuman.

Mereka tak pernah tahu,
seorang gelaslah aku sebenarnya.
Mudah menjadi kepingan tak bermakna,
saat aku tertarik grafitasi dan menghantam keras hidup.

Mereka tak pernah sadar,
terkadang aku menggunakan muka sang kembaran.
Yang hidup hanya dalam hati.
Aku menggunakan topeng bahagia,
dimana ternyata ia jauh dari cahaya.
Dimana ternyata Hawa terpupuk dalam pupus tragedi dan ironi.

Aku lelah bersembunyi,
Namun hanya kertas kosong dan pensil yang mengerti.
Pula gelaslah yang tahu kerasnya hidup dan rapuh wujudku.
Juga kembaran jiwa yang menjelma hanya dalam hati.

Sekarang aku mengaku,
mencoba merangkul pahit fakta dengan tulus,
Biarkan diri beranjak dewasa.
Tatap mataku dan kau tahu,
betapa selama ini yang kau kenal,
Dialah sang kembaran.

Saturday, December 31, 2011

Obsession

The crawling numbness began its way,

oozing thin from the valance tip of fingers.

Pushed back against boundaries

shall grips mental sanity,

overcoming whispers of devil’s thought keenly.

Struggling for disparities of which are good and bad.

Seeking through the mirror of rage,

nevertheless consciousness evaporates through time.

Who’s reflection appeared then in the parallel world?

Familiarly now *Perses has awakened,

Possessing mind and souls for words spoken define.

Counting stars in the damp sky is not enough,

for giving off my mind away of sight.

What was made has been done by past.

Through it all for one wish closing near bitterness.

The utter truth amongst lies

and nothing.

*Perses : Greek God of Destruction